Jika boleh aku menafsirkan, sebatas apa rasamu. Tak sedalam apa yang terdalam, tak setinggi apa yang paling tinggi, dan mungkin tak sekuat apa yang paling kuat. Entahlah, namun yang pasti aku tidak mau tahu. Ku kira dan semoga tafsirku salah untuk hal yang rumit dan multi tafsir tersebut. Setahuku tidak ada yang lebih tinggi kecuali memang sesuatu yang tidak terbatas melebihi akal. Dan meskipun aku sama sekali tak dapat menggapainya.
Jika memang hidup adalah segala kemungkinan maka aku berada dalam posisi aman. Salah benar tafsirku tidak jadi masalah. Satu sisi yang salah akan menjadi benar dalam sisi yang lain dan begitupula sebaliknya. Lagi-lagi aku merasa aman dalam kaca mata tafsirku. Tidak ada yang perlu kurisaukan.
Jika memang hidup ini adalah peluang, maka diriku ada pada titik tengah diantara banyak kemungkinan diluar kemungkinan atau peluang. Yang meskipun terlanjur menjadi doktrin akal antara iya dan tidak hingga benar dan salah. Mustahil untuk suatu hal yang lebih dinamis. Karena benar adalah kelereng yang dinamis dapat menggelinding kemana saja ia suka. Bukan seperti iya dan tidak sampai benar dan salah bagaikan roda atau ban yang menggelinding. Kalau tidak ke depan ya ke belakang. Kalau tidak ke belakang ya ke depan. Kalau tidak keduanya ya ambruk. Tapi aku tak mempermasalahkan itu. Aku biasa-biasa saja. Masih dalam angan keyakinanku untuk tafsirku. Berprasangka baik saja dalam benar bisa saja salah. Apalagi tidak berprasangka baik? Ataupun lebih modyar lagi jika tidak berprasangka sedikitpun? Dari yang bersepakat untuk sepakat.
I think I should also make a habit of taking midnight notes – they can be quite helpful and insightful. I have a lot of stress in my life and journaling can help with that. Though, I am glad I found a cheap essay writing service – and due to that, half of my stress is taken away. But there is still a lot.
BalasHapus