Si Tanpa Nama masih saja termanggu di sudut ruangan tak berwaktu. Termanggu antara kesadaran dan malam yang membuatnya semakin beku dalam dinginnya. Tak seperti biasanya, malam tak lagi menjerit seolah membisu. Kerinduan yang tiba-tiba membungkam semua, pekikku. Kerinduan yang mengucur. Kerinduan yang sangat perih. Kerinduan yang sangat pilu. "Apa kabar air mata" Lirih sapa ku.
- Anonim -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar