Si tanpa nama masih saja duduk-duduk di halte depan sekolahnya. Seperti sedang menunggu sesuatu, namun entah tidak jelas apa yang sedang dia tunggu. Sesekali ku lihat dia mengayunkan kakinya. Bahagia atau tidak pun tak nampak dari raut wajahnya. Hanya saja sinar senja terpantul dalam kernyit dahinya. Senja memerah di ufuk sana. Sesekali suara klakson bersahut di depannya. Suara mesin kendaraan berderu terpingkal menerjang. Tapi sepertinya bukan masalah baginya untuk tetap menunggu. Entah sedang menunggu apa.
- Anonim -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar