Tidak ada yang lebih menarik dan berguna dalam hidup selain menuliskan keindahan, menggoreskan kesantunan-kesantunan dalam bingkai waktu sebagai buku tempat pena kita berpijak. Betapa indahnya jika tulisan kita berisi nasehat dengan kata-kata yang sederhana dan mampu membuat kita menjadi lebih baik. Apalagi jika orang lain pun dapat mengambil hikmah dari setiap apa yang kita goreskan dalam buku dimensi waktu. Namun bagaimana jika bukan keindahan yang kita goreskan, melainkan caci-makian, kebohongan, atau bahkan gunjingan-gunjingan? Andaikan bukumu penuh dengan caci-makian, gunjingan, bahkan keburukan-keburukan kolektif, sudikah orang lain akan membacamu? Dapat kita bayangkan jawabannya. Bisa jadi memegang pun enggan, apalagi untuk membaca realitas busuk rapor merahmu, hingga tak jarang orang akan membantingmu. Logis bukan? Berbeda jika bukumu berisi dengan kisah-kisah inspiratif, puisi-puisi indah, atau nasihat-nasihat mulia, tentu orang lain akan menikmati alunan sejuknya kedamaian. Benar bukan? Dan sekarang tanyakan pada diri kita sendiri. Jika hingga saat ini tulisan hidup kita masih bernada sumbang, tanyakan pada dirimu, “Sehat?”
Hidup itu mudah kok, cukup berkata baik, berbuat santun, atau diam. Mudah kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar