Semua orang pasti ingin bahagia dan kebahagiaan. Semua orang pasti tak gentar mencari bahagia dan kebahagiaan. Namun bahagia tidak untuk dicari. Kebahagiaan harus dibangun. Dan kita sendiri yang berperan untuk belajar bahagia dan membangun kebahagiaan.
Seperti kebahagiaan dalam sebuah hubungan yang kiranya sama halnya dengan seseorang yang sedang membangun rumah. Seorang akan berpikir seribukali untuk menentukan dimana lokasi tanah yang startegis untuk dibangun menjadi sebuah rumah idaman. Hal itu juga dipikirkan oleh sebagian kita. Dengan siapa harus menjalin hubungan tersebut.
Baru kemudian setelah menemukan lokasi tanah yang sesuai, maka akan digali tanah itu untuk membuat pondasi sebagai dasar sebuah rumah. Katakanlah itu adalah sebuah komitmen dalam hubungan. Semakin dalam menggali, semakin lelah menggali, semakin kuat pondasi sebuah rumah.
Baru setelah pondasi berdiri kokoh barulah tahap-tahap yang lain turut mengikuti. Pembangunan tiang penyangga, kemudian tembok, atap, dan seterusnya. Katakanlah itu sebuah konsistensi dalam hubungan. Bayangkan jika kita tidak konsisten membangun rumah. Pastilah impian rumah idaman kita akan sirna begitu saja.
Begitupun dalam sebuah hubungan.
Saat kemudian rumah berdiri kokoh, tentunya rumah belum 100 persen sempurna. Disitulah tugas kita untuk menyempurnakan. Jangan karena hal sepele kemudian bertekat untuk bongkar pasang rumah, bahkan pindah rumah. Sia-sia bukan? Katakanlah itu sebuah pengingkaran.
Butuh proses yang sangat panjang untuk membangun sebuah rumah indaman. Bahagia dan kebahagiaan bukan sesuatu yang sekejap dan instan. Tapi perlu pengorbanan dan perjuangan yang tidak sebentar.
Jangan bangga dengan hasil, tapi banggalah dengan proses yang ditempuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar