Manusia adalah makhluk yang paling disayang
oleh Tuhan sehingga ia diciptakan oleh-Nya sebagai makhluk yang paling sempurna
di muka bumi ini. Jauh derajatnya dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang
lainnya. Bahkan semesta alam tunduk dihadapan manusia kecuali iblis dan
kesombongannya. Bukan karena manusia adalah makhluk yang suci ataupun yang
tidak pernah berbuat salah. Namun manusia dianugerahkan Qolbun beserta rasa
yang ada didalamnya. Disinilah letak kesempurnaan manusia dibandingkan makhluk
lainnya. Apakah ada keraguan diatasnya?
Mari kita merenung sejenak, memahami
bagaimana Tuhan menciptakan malaikat. Malaikat diciptakan Tuhan dari cahaya
dengan sedemikiannya beserta tugas-tugasnya, tapi apakah malaikat diberikan
perasaan layaknya manusia? Tidak bukan. Malaikat tidak pernah merasakan, ia
hanya diciptakan untuk beribadah dan menjalankan perintah pencipta-Nya.
Malaikat juga tidak diberikan nafsu seperti halnya manusia.
Lalu bagaimana dengan iblis? Iblis
diciptakan dari api, dia tidak dianugerahkan Qolbun oleh tuhannya bukan? Justru
dengan kesombongannya iblis selalu menggoda manusia untuk menjadi teman
seranjang di neraka. Wallahu ‘alam.
Kita juga bisa melihat bagaimana tumbuhan
disekeliling kita, mereka begitu terbatas. Bahkan untuk melangkah menuju rumah
tuhan pun mereka tidak mampu. Mereka hanya bisa terpaku dan bertasbih saja
ditempat mereka masing-masing. Mustahil jika mereka dianugerahkan perasaan
layaknya manusia.
Lalu bagaimanakah dengan ciptaan-Nya yang
lainnya misalnya hewan, gunung, angin, ombak, dan lain sebagainya? Dalam sebuah
hadist diriwayatkan bahwa seluruh makhluk Tuhan bertasbih dengan caranya
masing-masing. Wallahu ‘alam. Artinya bahwa hanya manusialah yang diberikan
kesempurnaan fisik beserta kelengkapannya berupa Qolbun atau hati.
Sekarang pertanyaannya apakah kita sudah
benar-benar menjadi manusia sesungguhnya? Dengan segala apa yang di anugerahkan
kepada kita termasuk perasaan? Demikianlah fitrah manusia yang membuatnya
sempurna jauh atas makhluk lainnya. Sudah barang tentu jika perasaan tersebut
nantinya akan membuat kita selalu intropeksi tentang apa yang sudah kita
lakukan. Sejauh mana kebenaran berada dipihak kita. Begitupula perasaan ini
akan membuat kita peka terhadap sekitar, berikut menentukan solusi dari
beberapa mungkin permasalahan yang ada.
Rasa mengajarkan manusia banyak hal.
Mengajarkan sopan santun, tenggang rasa, keikhlasan, dan kebaikan-kebaikan
lainnya. Tidak hanya sebagai wujud hablumminallah saja, tapi juga hubungannya
dengan sesama manusia dan alam sekitarnya.
Semuanya tentang RASA sebagai fitrah manusia, Kita disebut
dengan MANUSIA karena kita berpikir, Orang yang berpikir adalah yang dapat
merasakan, dan orang yang demikian adalah orang yang dekat dengan TUHAN.
Apakah anda bisa merasakan manisnya gula,
asinnya garam, masamnya mangga muda, atau bahkan pahitnya kopi tanpa gula?
Tentu anda bisa merasakan ketika anda dan indra perasa anda memang benar-benar
sehat. Namun ketika anda sakit pastilah akan kesulitan untuk merasakan hal-hal
semacam itu. Benar bukan?
Coba lihat sekeliling anda, orang-orang
miskin, orang susah, orang pinggiran, pengais sampah, gelandangan, pengemis,
nenek-nenek renta bahkan anak kecil yang kelaparan. Apakah anda bisa merasakan?
Tentu anda bisa merasakannya ketika hati anda dalam keadaan sehat. Sekarang
berpikirlah kembali apakah hati anda saat ini benar-benar sehat? Ini bukanlah
menyoal pertanyaan yang harus dijawab dengan pikiran layaknya menjawab soal
ujian di sekolah ataupun dikampus. Tapi ini tentang RASA. Sekali lagi ini
adalah tentang RASA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar