Sering kita mendengar bahkan pernah mengucapkan “aku ngalah”
atau “sing waras ngalah” atau dalam bentuk kalimat-kalimat lainnya. Namun
taukah dibalik kata tersebut terdapat filosofi yang sangat mendalam dan mengandung
nilai religiusitas. Secara harfiah memang sebagian besar kita mendefinisikan
sebagai ungkapan keputusasaan. Ungkapan dimana kita dalam keadaan pasrah dan
tidak mampu lagi untuk berjuang, sehingga keluarlah kata tersebut dari mulut
kita.
Secara etimologi kata “ngalah” yang dalam bahasa
Indonesia “mengalah” berasal dari kata awalan me = melakukan dan kata kalah =
tidak menang yang berarti mengaku kalah. Namun ini bagi saya adalah
pendefinisian dangkal saja hanya dalam kaca mata harfiah.
Namun disini saya mendefinisikan berdasarkan pada
nilai-nilai kesejarahan, bukan lagi secara harfiah saja. Tentunya dalam kesejarahan
Bahasa Jawa tidak terlepas dari produk-produk Nusantara yang dibangun oleh dinasti-dinasti
dalam masa silam pada waktu itu. Tidak terkecuali pada zaman kejayaan Walisongo
tepatnya.
Dalam pendekatan ini “ngalah” secara etimologi berasal
dari kata ng / me = menuju / melakukan dan alah = Allah dalam inviltrasi
morfologi yang berarti Tuhan Semesta
Alam. Sehingga berdasar terminologi dapat kita simpulkan bahwa mengalah adalah
keadaan dimana kita kembali kepada Allah. Kita benar-benar menghamba dengan
penuh tawadu’. Bukan berarti pasrah tak berdaya, namun lebih dari itu sebagai
kesempurnaan menjadi seorang hamba Allah. (Akh)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar