Di tengah hiruk-pikuknya kota dekat hutan hiduplah seorang pengantar air yang hidupnya dihabiskan untuk bekerja mengantarkan air kepada majikanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tidak lebih hanya agar dapurnya tetap berasap.
Tukang ait itu sebut saja Muklis. Dia seorang pengantar air seorang majikan di kota. Muklis mempunyai 2 ember untuk mengangkut air untuk majikanya tersebut. Namun salah satu embernya itu sudah retak. Yang mana tidak dapat optimal untuk menampung air. Muklis harus bolak-balik untuk memenuhi kebutuhan air majikanya karena salah satu embernya yang bocor.
Sudah hampir 5 tahun Muklis tidak pernah kecewa dengan salah satu ember yang rusak tersebut. Meskipun tidak bisa mengangkut air dengan sepenuhnya. Namun ember retak itu tampak sedih dengan dirinya. Suatu saat ember retak tersebut memberanikan diri mengutarakan perasaanya selama ini kepada tukang air tersebut.
Sudah hampir 5 tahun Muklis tidak pernah kecewa dengan salah satu ember yang rusak tersebut. Meskipun tidak bisa mengangkut air dengan sepenuhnya. Namun ember retak itu tampak sedih dengan dirinya. Suatu saat ember retak tersebut memberanikan diri mengutarakan perasaanya selama ini kepada tukang air tersebut.
Ember : “Saya sungguh malu terhadap diri saya, dan saya ingin minta maaf kepadamu”
Muklis : “Kenapa kau merasa malu”
Ember : “Saya selama ini hanya mampu membawa setengah porsi air untukmu, karena keretakan pada sisi saya sehingga air yang saya bawa bocor disepanjang jalan”
Muklis : “Kenapa kau merasa malu”
Ember : “Saya selama ini hanya mampu membawa setengah porsi air untukmu, karena keretakan pada sisi saya sehingga air yang saya bawa bocor disepanjang jalan”
Muklis pun merasa kasihan dengan ember itu. Dan muklis berkata: “jika kita besok kembali dari mengambil air, akan ku perlihatkan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.
Esok harinya ketika di bukit si ember baru mengetahui bahwa rentetan bunga tersebut telah sedikit menghiburnya Kata Muklis pada ember retak: "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga disepanjang jalan disisimu....??!!" “Aku telah menanam benih-benih bunga disepanjang jalan disisimu”. Dan setiap hari, jika kita berjalan pulang dari mata air, engkau mengairi benih-benih itu”. Selama hampir 3 tahun aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu utk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu, majikan kita tidak dapat menghias rumahnya seindah saat ini!"
Esok harinya ketika di bukit si ember baru mengetahui bahwa rentetan bunga tersebut telah sedikit menghiburnya Kata Muklis pada ember retak: "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga disepanjang jalan disisimu....??!!" “Aku telah menanam benih-benih bunga disepanjang jalan disisimu”. Dan setiap hari, jika kita berjalan pulang dari mata air, engkau mengairi benih-benih itu”. Selama hampir 3 tahun aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu utk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu, majikan kita tidak dapat menghias rumahnya seindah saat ini!"
Renungilah diri kita sob.
Tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan itu ada karena ketidak sempurnaan diri kita sendiri. Setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Jangan terpaku dengan kekurangan kita sob, namun bangkitlah bangun pikiran positif kita untuk optimalisasi kelebihan kita. Optimis sob.
Optimis adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada hal yang terjadi begitu saja dan mengalir tanpa tujuan. Pasti ada tujuan, dan pasti ada maksud pula. Mungkin saja anda mengalami pengalaman yang menyakitkan, maka keburukan itu ada hanya ketika melihat peristiwa itu dari satu sisi mata uang saja. Jika kita berani menengok ke sisi lain, maka kita akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Disinilah sob kita tahu bahwa Allah maha adil. J
Tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan itu ada karena ketidak sempurnaan diri kita sendiri. Setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Jangan terpaku dengan kekurangan kita sob, namun bangkitlah bangun pikiran positif kita untuk optimalisasi kelebihan kita. Optimis sob.
Optimis adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada hal yang terjadi begitu saja dan mengalir tanpa tujuan. Pasti ada tujuan, dan pasti ada maksud pula. Mungkin saja anda mengalami pengalaman yang menyakitkan, maka keburukan itu ada hanya ketika melihat peristiwa itu dari satu sisi mata uang saja. Jika kita berani menengok ke sisi lain, maka kita akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Disinilah sob kita tahu bahwa Allah maha adil. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar