Alhamdulillah disela-sela kesibukan ini saya masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali bergores ria mengekspresikan senyum dunia yang tidak sempat diekspos oleh massa. Luar bisa bukan jika sahabat mampu membantu mengekspresikan dunia ini. Apalagi sangat sulit untuk kita merasakan hal tersebut tanpa rasa syukur. Jarang sekali bahkan dari sebagian kita yang dapat memahami kehidupan ini. Dengan segala nikmat yang telah diturunkan untuk kita, apapun itu. Tiada kata selain rasa syukur akan hal itu.
Beberapa waktu lalu ada seorang sahabat saya mengajak saya untuk berdiskusi dan sharing tentang sekelumit rasa suka duka ketika menjadi panitia kegiatan opspek. Kebetulan sahabat saya ini juga baru kali ini berpartisipasi dalam kegiatan opspek, apalagi menjadi seorang instruktur pendamping yang nantinya akan membimbing para mahasiswa baru.
Namun banyak keluhan yang dia rasakan dan diceritakan panjang lebar kepada saya. Saya heran, rasanya belum seperti menyerah sebelum berperang. Dalam benak saya, mungkin sahabat saya ini sedang tertekan. Mungkin disisi lain juga kurang motivasi. Wajarlah memang kalau kita sedang menghadapi hal yang belum pernah kita hadapi. Apalagi harus berhadapan dengan orang banyak.
Namun bagi saya disitulah sebenarnya letak proses kedewasaan itu berlangsung. Semakin tinggi tekanan pada diri kita, maka semakin besar potensi matangnya mental kita dalam memebentuk karakter diri. Dan tentunya dengan pemahaman yang positif dalam melewati proses tersebut.
Cerita sahabat saya ini mengingatkan saya kepada pesan dari kakak saya. Maklumlah kakak saya dulu juga seorang aktifis. Ya meskipun aktifis kelas teri, paling tidak pernah bersaing menjadi presiden mahasiswa di UNBRAW meskipun pada akhirnya kalah selisih belasan suara.
Kakak saya berkata “i fell what i think” saya merasakan apa yang saya pikirkan. Meskipun kakak saya jurusan administrasi bisnis namun cukup lihai berbahasa inggris. Hehe. Begitu simpel kata tersebut, namun maknanya sungguh membekas dibenak saya. Bahwa apa yang kita pikirkan akan kita rasakan, dan itu otomatis dari sifat psikologis manusia. Misalkan saja kita berpikir tentang makanan, maka secara tidak langsung kita akan mampu membayangkan rasa makanan yang kita bayangkan tersebut. Maka dari itulah pikiran kita ini harus diisi dengan pikiran yang positif.
Hampir mirip dengan permasalahan sahabat saya tadi, selain kurang motivasi juga kurang dalam manajemen pikiran positif, sehingga dalam benaknya dirundung rasa takut tiada ujung. Oleh karena itu tentu butuh usaha untuk menekankan untuk selalu berpikir positif. Berpikir positif tentu akan mendatangkan pemahaman yang positif pula. Sehingga bisa menekan beban tanggung jawab yang kita emban. Dan pada akhirnya membuat kita hebat ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar